Pengumuman Kelulusan CPNS/CASN Honorer K2 SRAGEN—Ratusan tenaga honorer kategori 2 (K2) berusia kritis yang gagal lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menggelar aksi mogok kerja, karena kecewa dengan proses seleksi yang dinilai tidak transparan dan sarat kejanggalan. Tidak hanya itu, Rabu (19/2/2014) kemarin, mereka juga menggeruduk kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sragen untuk menuntut pembatalan hasil seleksi, karena banyak honorer yang lolos diketahui tidak mengikuti seleksi pendataan awal K2 tahun 2005.
Salah satu perwakilan honorer K2 asal Pilangsari, Ngrampal, Suwarso mengatakan aksi mogok sudah dilakukan sejak awal pekan ini oleh hampir 300-an honorer dari total 1.350 honorer K2 Sragen yang gagal lolos seleksi. Hal itu terpaksa dilakukan sebagai bentuk kekecewaan sekaligus protes terhadap hasil pengumuman yang dianggap banyak diwarnai kejanggalan.
Menurutnya, kejanggalan yang dirasakan di antaranya banyak honorer berusia muda dan memiliki masa kerja lebih singkat yang diketahui lolos. Hal itu dinilai bertolak belakang dengan kebijakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), yang dalam beberapa kesempatan selalu melontarkan bahwa faktor usia dan masa kerja akan menjadi pertimbangan dalam penentuan kelulusan. Dari penelusurannya, tak sedikit yang lolos itu juga diketahui tidak mengikuti seleksi K2 tahun 2005 yang menjadi awal dari pendataan K2.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti indikasi pembengkakan database K2 oleh tenaga bukan honorer yang sebenarnya tidak memenuhi syarat. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah K2 yang membengkak sampai angka 2.107 orang. Padahal seingatnya jumlah honorer K2 yang terdaftar di database BKD dan mengikuti seleksi pertama tahun 2005 hanya berjumlah sekitar 600-an orang.
“Kalau tidak disusupi honorer siluman, mestinya jumlahnya yang ikut tes hanya 600-an itu dan itu yang diprioritaskan untuk diangkat. Tapi faktanya di Sragen, banyak honorer kritis dan sudah mengabdi antara 15 sampai 25 tahun justru nggak lolos. Yang baru masuk kemarin sore malah lolos,” ujar Suwarso.
Selain dianggap tidak fair, mereka juga menuntut pembatalan hasil seleksi. Pasalnya, selain hasil dan penentuan kelulusan tidak disampaikan secara transparan, proses seleksi CPNS K2 kemarin juga dinilai sarat permainan uang. Hal itu ditunjukkan dari banyaknya honorer K2 yang mengaku membayar uang hingga ratusan juta, namun tidak lolos. Menurutnya, uang itu dibayarkan ada yang lewat pejabat BKD, orang dalam, pejabat kecamatan, hingga fungsionaris Parpol.
Wardoyo |Joglosemar
Salah satu perwakilan honorer K2 asal Pilangsari, Ngrampal, Suwarso mengatakan aksi mogok sudah dilakukan sejak awal pekan ini oleh hampir 300-an honorer dari total 1.350 honorer K2 Sragen yang gagal lolos seleksi. Hal itu terpaksa dilakukan sebagai bentuk kekecewaan sekaligus protes terhadap hasil pengumuman yang dianggap banyak diwarnai kejanggalan.
Menurutnya, kejanggalan yang dirasakan di antaranya banyak honorer berusia muda dan memiliki masa kerja lebih singkat yang diketahui lolos. Hal itu dinilai bertolak belakang dengan kebijakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), yang dalam beberapa kesempatan selalu melontarkan bahwa faktor usia dan masa kerja akan menjadi pertimbangan dalam penentuan kelulusan. Dari penelusurannya, tak sedikit yang lolos itu juga diketahui tidak mengikuti seleksi K2 tahun 2005 yang menjadi awal dari pendataan K2.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti indikasi pembengkakan database K2 oleh tenaga bukan honorer yang sebenarnya tidak memenuhi syarat. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah K2 yang membengkak sampai angka 2.107 orang. Padahal seingatnya jumlah honorer K2 yang terdaftar di database BKD dan mengikuti seleksi pertama tahun 2005 hanya berjumlah sekitar 600-an orang.
“Kalau tidak disusupi honorer siluman, mestinya jumlahnya yang ikut tes hanya 600-an itu dan itu yang diprioritaskan untuk diangkat. Tapi faktanya di Sragen, banyak honorer kritis dan sudah mengabdi antara 15 sampai 25 tahun justru nggak lolos. Yang baru masuk kemarin sore malah lolos,” ujar Suwarso.
Selain dianggap tidak fair, mereka juga menuntut pembatalan hasil seleksi. Pasalnya, selain hasil dan penentuan kelulusan tidak disampaikan secara transparan, proses seleksi CPNS K2 kemarin juga dinilai sarat permainan uang. Hal itu ditunjukkan dari banyaknya honorer K2 yang mengaku membayar uang hingga ratusan juta, namun tidak lolos. Menurutnya, uang itu dibayarkan ada yang lewat pejabat BKD, orang dalam, pejabat kecamatan, hingga fungsionaris Parpol.
Wardoyo |Joglosemar

No comments:
Post a Comment